Biografi
Taufiq Ismail
Taufiq Ismail
lahir di Bikittinggi, sumatera Barat pada tahun 1935. Beliau merupakan
budayawan dan sastrawan yang sangat populer . Beragam penghargaan telah
diperolehnya, baik tingkat nasional maupun tingkat internasional. Ia
telah melahirkan banyak karya seperti puisi, essai sastra, karya
terjemahan, dan lain lain. Namanya pantas disejajarkan dengan budayawan seperti
Emha Ainun Najib dan Chairil Anwar.
Masa
kecil Taufiq Ismail lebih banyak dihabiskan di Pekalongan. Ia pertama masuk
sekolah rakyat di Solo, lalu pindah ke Semarang, Salatiga dan menamatkan
sekolah rakyatnya di Yogyakarta. Ia melanjutkan SMP di bukit tinggi dan SMA
di Bogor. Selesai SMA, ia mendapatkan beasiswa American Field International
School untuk bersekolah di Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin,
AS. Ia merupakan angkatan pertama dari Indonesia. Kemudian ia melanjutkan
sekolah di di Fakultas Kedokteran Hewan
dan Peternakan UI
yang sekarang menjadi IPB. Setelah tamat ia mengikuti , International Writing
Program, University of Jowa, Iowa City, Amreika Serikat. Ia juga belajar di Faculty of
Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir. Namun karena pecah
perang, maka ia pulang sebelum studinya selesai. Taufiq
Ismail bermimpi menjadi seorang sastrawan saat masih SMA. Saat itu ia mulai
menulis beberapa puisi yang mulai dimuat di majalah majalah. Ia dibesarkan di
lingkungan keluarga yang suka membaca, sehinga ia mulai suka membaca
sjak kecil Hobinya membaca semakin terpuaskan sejak ia menjadi penjaga
perpustakaan di perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Minatnya dalam dunia sasta mulai tumbuh sasat ia sekolah
di SMA Whitefish Bay di Milwaukee,
Wisconsin, AS berkat
program beasiswa pertukaran pelajar. Di sana, ia mulai mengenal karya sastra
asing. Taufiq Ismail bersama sastrawan
sstrawan lainnya berhasil mengenalkan sastra ke sekolah0sekolah dengan program
“Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab’. Program itu disponsori oleh Yayasan Indonesia dan Ford Foundation. Karya Taufiq Ismail diantaranya ialah
buku kumpulan puisi yang salah satunya berjudul Manifestasi
(1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al) juga Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998). Ia
juga sempat meraih penghargaan, yaitu American
Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High
School di Milwaukee, Amerika Serikat dan Anugerah
Seni Pemerintah RI pada 1970; dan – SEA Write Award (1997).
Biografi Raden Saleh
Nama : Raden Saleh
Sjarif Boestaman
Lahir : 1807/1811,
Semarang, Hindia Bela
Periode : Perintis
(1826-1880)
Corak : Romantis dan
Naturalis
Raden Saleh adalah Perintis Seni Rupa Modern Indonesia
(periode perintis 1826-1880) dengan karya yang cenderung bercorak Romantis dan
Naturalis. Beliau dilahirkan di Semarang, adapun perihal tanggal kelahirannya
masih belum diketahui pasti, terdapat sumber yang mengatakan bahwa ia
dilahirkan di tahun 1807, ada juga yang menengarai di bulan Mei 1811. Dikatakan
bahwa Raden Saleh untuk pertama kalinya mengenal Dunia Seni Lukis melalui AAJ
Payen, seorang Belgia yang ditugaskan pemerintah colonial untuk melukis alam
dan pemandangan. Pertemuan keduanya berawal ketika Raden Saleh menjalankan
pendidikan untuk menjadi pegawai belanda di Cianjur dan bertempat di rumah
Residen Cianjur bernama R. Baron del Capellen. Melalui Payen dan Capellen,
Raden Saleh berangkat ke Negeri Belanda untuk belajar melukis dan menjadi
pelukis. Selama lebih dari 20 tahun di Eropa, Raden Saleh belajar dari berbagai
“guru” pelukis dan menyerap berbagai aliran seni lukis serta bersosialisasi di
beberapa kota di Eropa (Den Haag, Dresden, Paris, dll).
Raden
Saleh merupakan sosok pelukis yang telah menjadi legenda dalam sejarah seni
rupa modern Indonesia. Dia “terlanjur” dianggap sebagai pioneer seni rupa
modern Indonesia dan keberadaannya merepresentasikan banyak hal. Mulai dari
kisah keteknikan seni lukis hingga tema nasionalisme. Karya, kisah dan momen
keberadaan Raden Saleh sampai saat ini memang tidak ada duanya. Banyak sekali
ulasan dilahirkan, di samping banyak karya lukisan dia yang menakjubkan. Peter
Carey seorang peneliti yang mengaguminya telah terinspirasi karya Raden Saleh
mengenai “Penangkapan Pangeran Dipanegara” hingga telah menulis ratusan halaman
tentang penangkapan tersebut. Nama Raden Saleh juga diabadikan menjadi nama
jalan di daerah bekas rumahnya di Jakarta. Raden Saleh menjadi ikon yang
menarik hingga 200 tahun kemudian (2012) dibuat pameran karya-karya Raden
Saleh.
Sekembalinya
dari Eropa, sekitar tahun 1851, Raden Saleh terus melukis dan melahirkan
karya-karya lukis yang berupa potret, pemandangan dan adegan-adegan peristiwa.
Raden Saleh juga telah melahirkan banyak kisah mengenai tempat-tempat (misalnya
keberadaan rumahnya), kisah mengenai rumah tangganya dan banyak kisah
perjalanan yang dilakukannya. Kisah-kisahnya membawa pengaruh hingga sekarang.
Raden Saleh meninggal Bulan April tahun 1880 di Kota Bogor.
Biografi KH. A Mustafa
Bisri (Gus Mus)
KH.
A. Mustofa Bisri atau akrab di panggil Gus
Mus adalah seorang
Kiai, Penyair, Pelukis, Budayawan, Cendekiawan Muslim atau…dan masih banyak lagi predikat
yang disandangkan ke padanya. Sosok multikreatif yang cenderung bersahaja namun
terus bergerak tak kenal lelah untuk melakukan berbagai kegiatan. Sebagai
seorang ulama, Gus Mus telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan
social dan politik para ulama, jauh dari sifat ambisius dan bahkan dikatakan
beliau adalah kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. sebagai pelaku seni,
bersastra merupakan aktivitas yang telah mendarah daging bagi beliau.
“Bersastra itu kan kegiatan manusia paling tinggi, melibatkan rasio dan
perasaan !” katanya.
KH.
A. Mustofa Bisri lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus
1944. Beliau lahir dari pasangan KH. Bisri bin H. Zaenal Mustofa dan Hj.
Ma’rufah binti KH. Kholil Harun. Gus Mus adalah anak kedua dari delapan
bersaudara. Ketujuh saudara Gus Mus yang lain adalah: KH. Kholil Bisri, KH.
Adib Bisri, Hj. Faridah, Hj. Najihah, Nihayah, Labib dan Hj. Atikah. Bakat
menulis diperoleh dari ayahnya. Ayah Gus Mus, KH. Bisri Mustofa adalah salah
satu ulama terkenal pada waktu itu yang juga gemar menulis. Salah satu hasil
karyanya yang hingga sekarang masih digemari oleh para pembaca ialah Kitab
Tafsir Al Ibriz. Bakat menulis KH. Bisri Mustofa juga tampak dalam penerjemahan
kitab-kitab klasik yang umumnya sulit dipahami oleh para santri, semisal: Fath
al-Mu’in, Alfiyah Ibnu Malik, Al-Iktsir dan Al-Baiquniyah. Tetapi oleh beliau
diterjemahkan ke dalam bahasa yang lugas dengan bahasa indah dan mudah
dipahami.
Biografi Basoeki Abdullah
Basuki Abdulah adalah salah satu Tokoh Seni Rupa Indonesia yang dikenal sebagai pelukis beraliran
realis dan naturalis. Seorang Maestro Pelukis Indonesia yang pernah menjadi
pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta. Beragam karyanya banyak menghiasi
Istana-istana Negara dan kepresidenan Indonesia serta menjadi barang koleksi
dari berbagai penjuru dunia. Beliau adalah Seniman multitalenta, selain sebagai
pelukis, Basoeki Abdullah juga pandai menari dan sering tampil sebagai Rahwana
atau Hanoman dalam Tarian Wayang Wong, sebagai pelukis dengan wawasan yang
luas, beliau sangatlah menguasai soal pewayangan dan budaya jawa, disamping itu Basuki Abdullah juga
menyukai komposisi-komposisi Franz Schubert, Bethoven dan Paganini.
Basoeki
Abdullah adalah
seorang Pelukis yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, terlahir di Desa Sriwidari
pada tanggal 27 januari 1915, ayahnya adalah seorang Pelukis dan salah satu
tokoh Mooi Indie bernama R. Abdullah Suryosubroto, sedangkan Ibunya bernama
Raden Nganten Ngadisah. Basuki Abdullah adalah cucu dari Wahidin Sudirohusodo
yakni salah satu Tokoh Kebangkitan Nasional Indonesia. terhitung sejak umur 4
tahun, Basuki kecil telah gemar menggambar tokoh-tokoh terkenal dunia seperti
Yesus Kristus, Mahatma Ghandi, Rabindranath Tagore, Khrisnamurti dan lain-lain.
Basuki Abdullah memulai pendidikan formalnya hingga masa muda di HIS (Hollands
Inlandsche Scool) yang kemudian dilanjutkan di MULO (Meer Ultgebried Lager
Onderwijs). Selanjutnya beliau mendapatkan beasiswa untuk pendidikan Seni Rupa
di Academie Voor Beldeende di Deen Haag, Belanda. Selama 2 tahun 2 bulan dengan
meraih penghargaan sertifikat RIA (Royal International of Art). Selanjutnya
beliau juga mengikuti pendidikan semacam studi bandi ke sejumlah sekolah seni
rupa di Paris dan Roma. Pada tahun 1939, karena
merasa bahwa selama bertahun-tahun hasil karyanya hanya dinikmati oleh bangsa
asing, Basuki Abdullah mengadakan Pameran Lukisan keliling di beberapa daerah
di Indonesia seperti di Jakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung
dan Medan. Selama pameran tersebut beragam sanjungan dan kritikan menghampiri,
namun oleh beliau dijadikan sebagai dorongan untuk tetap berkarya. Basoeki
Abdullah mulai terlihat dalam pergerakan revolusi secara nyata pada kisaran
tahun 1942, dan bergabung dengan organisasi PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat)
sebagai pengajar Seni Lukis di tahun 1943. Selain itu beliau juga aktif dalam
Keimin Bunka Sdhojo yang merupakan Pusat Kebudayaan milik Jepang bersama
Affandi, S. Soedjojono, Otto Djaja dan Basoeki Resobowo. Pada masa-masa
kemerdekaan Indonesia, Basoeki Abdullah berada di Eropa bersama istrinya Maya
Michel, selama di Eropa, beliau terus aktif berpameran di Belanda dan Inggris.
Adapun di tahun 1948, beliau memenangkan sayembara melukis dalam Penobatan Ratu
Yuliana, sayembara tersebut menjadikan nama beliau sangat menonjol karena
diikuti oleh 87 pelukis Eropa.
Biografi
Chairil Anwar
Dunia Sastra Indonesia telah mengenal seorang penyair besar
bernama Chairil Anwar, seorang yang
teramat dipopulerkan oleh karya-karyanya sendiri yang memuat besarnya sebuah
pemikiran akan keterkaitan dirinya dengan suatu keadaan dan persoalan zaman,
tentang Perang, Revolusi dan bahkan Si
Binatang Jalang(Julukan Chairil Anwar) ini telah mengisyaratkan keberadaan
dirinya juga melalui kata-kata. meski sang sastrawan besar ini meninggal di usia muda yang akan
beranjak 27 tahun, Sastra Indonesia dalam perkembangannya hingga saat ini masih
merasakan benar pengaruh bahasa seorang Chairil Anwar yang cenderung berlepas
diri dari kaidah bahasa baku demi sebuah ekspresi keindahan sastra.
Chairil
Anwar adalah
seorang anak tunggal yang lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, dari pasangan
Toeloes dan Saleha yang keduanya berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota di
Sumatera Barat, Bapaknya adalah mantan Bupati Indragiri Riau sedangkan ibunya
masih punya pertalian keluarga dengan Sultan Sjahrir (Perdana Menteri Indonesia
Pertama), Chairil lahir dan dibesarkan dalam kehidupan keluarga yang cukup
buruk, dimana ketika beranjak pada usia 19 tahun, kedua orang tuanya bercerai
yang kemudian ayahnya menikah lagi dengan wanita lain sedangkan Chairil bersama
Ibunya pindah ke Batavia (jakarta).
Chairil
Anwar kecil masuk sekolah dasar Holland Indische School (HIS) yang merupakan
sekolah dasar untuk orang-orang pribumi di masa penjajahan Belanda, selanjutnya
dia meneruskan pendidikan menengah pertamanya di Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs, kemudian sejak usia 18 tahun ia tidak melanjutkan sekolah lagi,
meskipun begitu Chairil mampu menguasai bahasa-bahasa asing yang diantaranya
Bahasa Inggris, Belanda dan Jerman. di Jakarta Chairil mulai berkenalan dengan
dunia Sastra dan banyak menghabiskan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan
Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff serta
Edgar du Perron, kesemua penulis tersebut kelak sangatlah berpengaruh pada
tulisannya sendiri yang bisa diartikan berpengaruh juga pada tatanan
Kasusastraan Indonesia.
Tahun
1942 merupakan tahun dimana nama Chairil
Anwar mulai dikenal dalam Dunia Sastra, hal ini berkaitan dengan pemuatan
tulisannya di Majalah Nisan, tepatnya ketika dia menginjak usia 20 tahun. pada
masa itu sebagian besar puisi-puisinya bertemakan kematian. Namun saat pertama
kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak
yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan
semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Puisi-puisinya beredar di
atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak
diterbitkan hingga tahun 1945. Chairil Anwar dalam kehidupannya pernah menjadi
penyiar radio jepang di jakarta dan mulai jatuh cinta kepada seorang perempuan
bernama Sri Ayati yang hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian
untuk mengungkapkannya. kemudian pada tanggal 6 Agustus 1946 ia memutuskan untuk
menikahi Hapsah Wiraredja dan dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa,
Pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian pada akhir tahun 1948.
Chairil
Anwar mulai diserang sejumlah penyakit sebelum menginjak usia ke 27 tahun yang
berakhir pada kematiannya dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (Rumah Sakit Dr.
Cipto Mangunkusumo) pada tanggal 28 April 1949, dikatakan bahwa menjelang
kematiannya, Chairil Anwar insaf dan mengingau memanggil “Tuhanku, Tuhanku….”
dan sehari setelah kematiannya ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet
Bivak jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa.
Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus
sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa “Chairil telah
menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi
berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus”.
Selama
hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi, kebanyakan
tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara
Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949, sedangkan karyanya yang paling
terkenal berjudul Aku dan Krawang Bekasi. Semua tulisannya baik yang asli,
modifikasi, atau yang diduga diciplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan
oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudul Deru Campur Debu (1949),
kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan
Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).
Biografi
Kuntowijoyo
Kuntowijoyo adalah seorang pemikir komplit dengan
ragam identitas dan julukan, seorang Guru Besar, Sejarahwan, Budayawan,
Sastrawan, Penulis-Kolumnis, Aktivis serta Intelektual Muslim.
beliau lahir sebagai anak kedua dari delapan bersaudara di Desa Ngawonggo,
Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten pada tanggal 18 Sepetember 1943 dari Pasangan
Martoyo yang seorang pendalang dengan Ibu Warastri.
Kuntowijoyo memulai pendidikan Sekolah Dasarnya di
Sekolah Rakyat Negeri Klaten hingga lulus pada tahun 1956. Setamat dari SD
Klaten, ia melanjutkan ke SMP Negeri Klaten, lulus pada tahun 1959. Lalu
melanjutkan studi ke SMA Negeri Solo, lulus pada tahun 1962. Kemudian ia
melanjutkan studinya di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta, lulus pada tahun
1969. Setelah lulus dari UGM, Kuntowijoyo melanjutkan kuliah di University of
Connecticut dan meraih master (M.A., American Studies, 1974) dan gelar doktor
(Ph.D., Ilmu Sejarah, 1990) di Universitas Columbia, dengan
disertasi yang berjudul Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850-1940.
Kuntowijoyo dikenal sebagai Intelektual Muslim yang
rendah hati, Jujur dan berintegritas tinggi, dimana dalam keadaannya yang
sakit, beliau tetap sabar dalam melayani bimbingan mahasiswa juga sempat
menulis beberapa buku yang baru terbit setelah kepergiannya menghadap Illahi.
Dalam perjalanan hidupnya beliau menikahi perempuan bernama Susiloningsih yang
dikenalnya sejak 1967 yang kala itu secara kebetulan bersua di Rumah Sakit
Bethesda, Yogyakarta, tempat Kunto sedang dirawat karena penyakit batu ginjal.
Istrinya tersebut juga menjadi dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Jogja
dan juga telah meyelesaikan studi di Psychology Department, Hunter College of
The City University of New York pada tahun 1980. Dari pernikahannya tersebut
Kuntowijoyo dikaruniai dua orang anak yakni Punang Amari Puja dan Alun
Paradipta. Dalam masa hidupnya, Kuntowijoyo mengalami serangan virus meningo
enchepalitis (infeksi yang menyerang bagian otak). Dan Kuntowijoyo meninggal
pada hari Selasa, 22 Februari 2005.
Kuntowijoyo
merupakan pengajar di jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (sebelumnya Fakultas
Sastra) Universitas Gadjah Mada. sebagai seorang intelektual dan akademisi
beliau telah menghasilkan telaah-telaah kritis terhadap beragam masalah sosial,
Budaya dan Sejarah. semua itu dapat terlihat pada buku-bukunya antara lain; Dinamika
Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987),
Paradigma Islam : Interpretasi untuk Aksi (1991), Demokrasi dan Budaya
Birokrasi(1994), Identitas Politik Umat Islam(1997), Pengantar Ilmu
Sejarah (2001), Muslim Tanpa Masjid (2001), Selamat Tinggal Mitos,
Selamat Datang Realitas(2002), Radikalisasi Petani : Esai-Esai Sejarah
Kuntowijoyo(2000), Raja, Priyayi, dan Kawula : Surakarta 1900-1915 (2004), dan
Penjelasan Sejarah (2008).
Kuntowijoyo
merupakan Tokoh yang begitu gemilang dengan banyaknya
Identitas yang disandangnya, karena memang tidak banyak Sastrawan
Indonesia yang bisa
seperti itu, Kualitas dan produktivitas Kuntowijoyo menulis karya sastra
sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah
atau pemikiran sosial berbasis Islam. Baik dalam sastra (khususnya prosa)
maupun dalam dunia intelektual/akademisi, Kuntowijoyo menduduki posisi
penting dan terhormat. Dua aktivitas itu dijalaninya dengan khusyuk,
dengan perhatian dan penekanan yang seimbang.
Karya sastra Kuntowijoyo antara lain terkumpul dalam buku Suluk
Awang Uwung (kumpulan sajak, 1975), Makrifat Daun, Daun Makrifat (kumpulan
sajak, 1995), Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (kumpulan cerpen, 1992),
Hampir Sebuah Subversi (kumpulan cerpen, 1999), Kereta Api yang Berangkat
Pagi Hari (novel, 1996), Pasar (novel, mendapat hadiah Hari Buku 1972),
Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), Mantra Pejinak Ular (2000), dan
Wasripin dan Satinah (2003), Rumput-Rumput Danau Bento (drama, 1968),
Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma, Barda, dan Cartas (drama, 1972), dan
Topeng Kayu (1973). Karyanya tersebar pula dalam berbagai
antologi.
Sebagai
sastrawan beliau banyak menerima penghargaan, antara lain Hadiah
Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (1986), Penghargaan
Penulisan Sastra Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk Buku
Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1994), Penghargaan Kebudayaan dari ICMI
(1995), Cerpen Terbaik Kompas (1995,1996, 1997, dan 2005),
ASEAN Award on Culture (1997), Satyalencana Kebudayaan RI (1997),
Mizan Award (1998), Penghargaan Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari
Menristek (1999), dan Sea Write Award dari Pemerintah Thailand (1999).
Biografi
Affandi Koesoema
Affandi
Koesoema adalah nama seorang Maestro
Seni Lukis Indonesia, seorang putra Cirebon yang lahir pada tahun
1907, Putra seorang bapak bernama R. Koesoema yang seorang mantri ukur pabrik gula
di Ciledug (Cirebon). pendidikannya di awali di Hollandsch-Inlandsche
School (HIS),
dilanjutkan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs(MULO)
hingga di Algeme(e)ne Middelbare School (AMS), jenjang pendidikan yang cukup
tinggi pada masa itu, meskipun begitu bakat melukis yang begitu kental telah
mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya.
Pada
tahun 1933 yakni ketika Affandi telah berumur 26 tahun, beliau menikah dengan
Maryati yang kemudian dikaruniai seorang putri dengan diberi nama Kartika
Affandi yang kemudian mewarisi darah seniman bapaknya sebagai Pelukis. Affandi
juga sempat menjadi guru dan bekerja sebagai seorang tukang sobek karcis serta
membuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung Bioskop Bandung, namun itu
tidaklah lama karena ketertarikannya pada Bidang Seni Lukis, selanjutnya pada
kisaran tahun 30-an, beliau tergabung dalam kelompok Lima Pelukis Bandung (Lima
Bandung) bersama Hendra Gunawan, Barli, Sudarso dan Wahdi.
Lima Bandung adalah kemudian dikenal memiliki andil yang cukup besar dalam Perkembangan Seni Rupa Indonesia.
Pameran
Tunggal Pertamanya diadakan di tahun 1943 di Gedung Poetera Djakarta dimana
pada tahun tersebut sedang berlangsung pendudukan tentara jepang di indonesia,
sejak saat itulah namanya terus bersinar, diceritakan bahwa beliau pernah
mendapatkan beasiswa untuk kuliah melukis di Santiniketan, India, yang ternyata
menolaknya dengan alasan karena beliau sudah tidak memerlukan pendidikan
melukis lagi, akhirnya beasiswa tersebut dimanfaatkan untuk Pameran keliling
India, Affandi juga termasuk pimpinan pusat dari Lekra (Lembaga Kebudayaan
Rakyat) yang didirikan pada tahun 1950, Organisasi Kebudayaan Terbesar yang dibubarkan oleh rezim
Suharto.
Nama
Affandi dalam bidang Seni Rupa semakin bersinar, Karya-karyanya dipamerkan
diberbagai negara di Asia, Eropa, Amerika dan Australia dan selalu memukau
pencinta seni dunia, hingga pada tahun 1974 beliau diberi gelar Doktor Honoris
Causa dari University of Singapore, juga Setahun sebelumnya, pemerintah
Indonesia memberikan penghargaan berupa sebuah museum yang didirikan tepat di
atas tanah yang pernah menjadi tempat tinggal sang Empu Lukis Indonesia ini dan
diresmikan Menteri P&K masa itu, Fuad Hassan. Semasa hidupnya, Affandi
diketahui telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis.
Affandi merupakan Maestro Seni Lukis dengan
kesederhanaan cara berfikir, meskipun dunia mengakui karya – karyanya bergenre
Ekspresionis, namun beliau mengaku tidak tahu menahu mengenai aliran tersebut,
Beliau cenderung membutakan diri terhadap teori dan lebih suka bekerja secara
nyata dengan penuh kesungguhan, Affandi adalah gambaran kesederhanaan yang
mengatakan dirinya tidak punya kepribadian besar untuk disebut seniman, dia
hanya mengaku sebagai tukang gambar, ketika beliau ditanya kenapa dia melukis,
beliau hanya menjawab “Saya melukis karena saya tidak bisa mengarang, saya
tidak pandai omong. Bahasa yang saya gunakan adalah bahasa lukisan”
Affandi
tetap berprofesi menjadi seorang Pelukis hingga saat meninggalnya pada 23 Mei
1990, meski telah tiada, karya-karya tetap bisa dinikmati di Museum Affandi
yang terletak diatas tanah tempat tinggalnya, terdapat sekitar seribu lebih
lukisan didalamnya, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi.
Lukisan-lukisan Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif
yang punya nilai kesejarahan mulai dari awal kariernya hingga selesai, sehingga
tidak dijual.